Selasa, 10 November 2009

MANFAAT E_LEARNING

1. pendahuluan
Pengetahuan dan pembelajaran merupakan dua hal yang tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Pengetahuan yang didapat oleh seseorang takkan
pernah ada bila tanpa melalui proses pembelajaran. Sedangkan hakekat
daripada pembelajaran itu sendiri adalah untuk memperoleh pengetahuan.
Untuk memperoleh tersebut dapat mengikuti pelatihan atau dapat juga
untuk membaca buku.
Dapat dibayangkan bila pelatihan tersebut dapat digantikan dengan
menggunakan bantuan teknologi informasi yang kini berkembang sedemikian
pesatnya dan telah merambah berbagai aspek kehidupan manusia.
Bayangkan pula berapa waktu dan biaya yang dapat dihemat bila proses
pelatihan dan pembelajaran tersebut dapat dilakukan tanpa memandang
siapa pelakunya, tanpa batasan tempat dan waktu. Dalam terminologi
perkembangan teknologi informasi bentuk pelatihan dan pembelajaran
demikian dikenal dengan istilah e-Learning.
2. Pengertian
E-learning adalah sebuah proses pembelajaran yang berbasis
elektronik. Salah satu media yang digunakan adalah jaringan komputer.
Dengan dikembangkannya di jaringan komputer memungkinkan untuk
dikembangkan dalam bentuk berbasis web, sehingga kemudian
dikembangkan ke jaringan komputer yang lebih luas yaitu internet, inilah
makanya system e-learning dengan menggunakan internet disebut juga
internet enabled learning. Penyajian e-learning berbasis web ini bisa
menjadi lebih interaktif. Informasi-informsai perkuliahan juga bisa realtime.
Begitu pula dengan komunikasinya, meskipun tidak secara langsung
tatap muka, tapi forum diskusi perkuliahan bisa dilakukan secara online dan
real time. System e-learning ini tidak memiliki batasan akses, inilah yang
memungkinkan perkuliahan bisa dilakukan lebih banyak waktu (Nugraha,
2007).
3. Manfaat
Ada beberapa manfaat pembelajaran elektronik atau e-learning, di
antaranya adalah:
< Pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).
< Bertambahnya Interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru
atau instruktur (interactivity enhancement).
< Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (global audience).
< Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran
(easy updating of content as well as archivable capabilities).
Manfaat e-learning juga dapat dilihat dari 2 sudut pandang :
a. Manfaat bagi siswa
Dengan kegiatan e-Learning dimungkinkan berkembangnya
fleksibilitas belajar yang tinggi. Artinya, kita dapat mengakses bahan-bahan
belajar setiap saat dan berulang-ulang. Selain itu kita juga dapat
berkomunikasi dengan guru/dosen setiap saat, misalnya melalui chatting
dan email. Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik
dan tersedia untuk diakses melalui internet, maka kita dapat melakukan
interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja, juga
tugas-tugas pekerjaan rumah dapat diserahkan kepada guru/dosen begitu
selesai dikerjakan.
b. Manfaat bagi pengajar
Dengan adanya kegiatan e-Learning manfaat yang diperoleh
guru/dosen antara lain adalah bahwa guru/dosen/ instruktur akan lebih
mudah melakukan pembaruan materi maupun model pengajaran sesuai
dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi, juga dapat dengan
efisien mengontrol kegiatan belajar siswanya.
Pengalaman negara lain dan juga pengalaman distance learning di
Indonesia ternyata menunjukkan sukses yang signifikan, antara lain: (a)
mampu meningkatkan pemerataan pendidikan; (b) mengurangi angka putus
sekolah atau putus kuliah atau putus sekolah; (c) meningkatkan prestasi
belajar; (d) meningkatkan kehadiran siswa di kelas, (e) meningkatkan rasa
percaya diri; (f) meningkatkan wawasan (outward looking); (g) mengatasi
kekurangan tenaga pendidikan; serta (h) meningkatkan efisiensi.
(Soekartawi, 2005)
Keuntungan menggunakan e-Learning diantaranya adalah sebagai
berikut:
• Menghemat waktu proses belajar mengajar
• Mengurangi biaya perjalanan
• Menghemat biaya pendidikan secara keseluruhan (infrastruktur,
peralatan, buku-buku)
• Menjangkau wilayah geografis yang lebih luas
• Melatih pembelajar lebih mandiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan
E-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan
bahan/materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara peserta didik
dengan dosen/guru/instruktur maupun antara sesama peserta didik. Peserta
didik dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal
yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri peserta
didik. Guru atau instruktur dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan
tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik di tempat tertentu di
dalam web untuk diakses oleh para peserta didik. Sesuai dengan kebutuhan,
guru/instruktur dapat pula memberikan kesempatan kepada peserta didik
untuk mengakses bahan belajar tertentu maupun soal-soal ujian yang hanya
dapat diakses oleh peserta didik sekali saja dan dalam rentangan waktu
tertentu pula (Website Kudos, 2002).
Secara lebih rinci, manfaat e-Learning dapat dilihat dari 2 sudut,
yaitu dari sudut peserta didik dan guru:
• Dari Sudut Peserta Didik
Dengan kegiatan e-Learning dimungkinkan berkembangnya
fleksibilitas belajar yang tinggi. Artinya, peserta didik dapat mengakses
bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang. Peserta didik juga
dapat berkomunikasi dengan instruktur setiap saat. Dengan kondisi yang
demikian ini, peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya
terhadap materi pembelajaran.
Manakala fasilitas infrastruktur tidak hanya tersedia di daerah
perkotaan tetapi telah menjangkau daerah kecamatan dan pedesaan, maka
kegiatan e-Learning akan memberikan manfaat (Brown, 2000) kepada
peserta didik yang (1) belajar di sekolah-sekolah kecil di daerah-daerah
miskin untuk mengikuti mata pelajaran tertentu yang tidak dapat diberikan
oleh sekolahnya, (2) mengikuti program pendidikan keluarga di rumah
(home schoolers) untuk mempelajarii materi pembelajaran yang tidak dapat
diajarkan oleh para orangtuanya, seperti bahasa asing dan keterampilan di
bidang komputer, (3) merasa phobia dengan sekolah, atau peserta didik
yang dirawat di rumah sakit maupun di rumah, yang putus sekolah tetapi
berminat melanjutkan pendidikannya, yang dikeluarkan oleh sekolah,
maupun peserta didik yang berada di berbagai daerah atau bahkan yang
berada di luar negeri, dan (4) tidak tertampung di sekolah konvensional
untuk mendapatkan pendidikan.
• Dari Sudut Instruktur
Dengan adanya kegiatan e-Learning (Soekartawi, 2002a,b), beberapa
manfaat yang diperoleh instruktur antara lain adalah bahwa instruktur
dapat: (1) lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang
menjadi tanggung-jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan
keilmuan yang terjadi, (2) mengembangkan diri atau melakukan penelitian
guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif
lebih banyak, (3) mengontrol kegiatan belajar peserta didik. Bahkan
instruktur juga dapat mengetahui kapan peserta didiknya belajar, topik apa
yang dipelajari, berapa lama sesuatu topik dipelajari, serta berapa kali
topik tertentu dipelajari ulang, (4) mengecek apakah peserta didik telah
mengerjakan soal-soal latihan setelah mempelajari topik tertentu, dan (5)
memeriksa jawaban peserta didik dan memberitahukan hasilnya kepada
peserta didik.
Sedangkan manfaat pembelajaran elektronik menurut A. W. Bates
(Bates, 1995) dan K. Wulf (Wulf, 1996) terdiri atas 4 hal, yaitu:
• Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan
guru atau instruktur (enhance interactivity).
Apabila dirancang secara cermat, pembelajaran elektronik dapat
meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik
dengan guru/instruktur, antara sesama peserta didik, maupun antara
peserta didik dengan bahan belajar (enhance interactivity). Berbeda halnya
dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik
dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai
kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ataupun menyampaikan
pendapatnya di dalam diskusi. Mengapa?
Karena pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan
yang ada atau yang disediakan dosen/guru/instruktur untuk berdiskusi atau
bertanya jawab sangat terbatas. Biasanya kesempatan yang terbatas ini
juga cenderung didominasi oleh beberapa peserta didik yang cepat tanggap
dan berani. Keadaan yang demikian ini tidak akan terjadi pada
pembelajaran elektronik. Peserta didik yang malu maupun yang ragu-ragu
atau kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan
pertanyaan maupun menyampaikan pernyataan/pendapat tanpa merasa
diawasi atau mendapat tekanan dari teman sekelas (Loftus, 2001).
• Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan
saja (time and place flexibility).
Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan
tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta
didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan
dari mana saja (Dowling, 2002). Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan
pembelajaran, dapat diserahkan kepada instruktur begitu selesai
dikerjakan. Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan
guru/instruktur.
Peserta didik tidak terikat ketat dengan waktu dan tempat
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran sebagaimana halnya pada
pendidikan konvensional. Dalam kaitan ini, Universitas Terbuka Inggris telah
memanfaatkan internet sebagai metode/media penyajian materi.
Sedangkan di Universitas Terbuka Indonesia (UT), penggunaan internet
untuk kegiatan pembelajaran telah dikembangkan. Pada tahap awal,
penggunaan internet di UT masih terbatas untuk kegiatan tutorial saja atau
yang disebut sebagai “tutorial elektronik” (Anggoro, 2001).
• Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a
global audience).
Dengan fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah peserta didik
yang dapat dijangkau melalui kegiatan pembelajaran elektronik semakin
lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi
hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat
belajar. Interaksi dengan sumber belajar dilakukan melalui internet.
Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang
membutuhkan.
• Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran
(easy updating of content as well as archivable capabilities).
Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet dan berbagai
perangkat lunak yang terus berkembang turut membantu mempermudah
pengembangan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan
penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan
perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara periodik dan
mudah. Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi
pembelajaran dapat pula dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik
dari peserta didik maupun atas hasil penilaian instruktur selaku
penanggung-jawab atau pembina materi pembelajaran itu sendiri.
Pengetahuan dan keterampilan untuk pengembangan bahan belajar
elektronik ini perlu dikuasai terlebih dahulu oleh instruktur yang akan
mengembangkan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan
pengelolaan kegiatan pembelajarannya sendiri. Harus ada komitmen dari
instruktur yang akan memantau perkembangan kegiatan belajar peserta
didiknya dan sekaligus secara teratur memotivasi peserta didiknya.
4. Pro dan kontra terhadap e-Learning
Pengkritik e-Learning mengatakan bahwa “di samping daerah
jangkauan kegiatan e-Learning yang terbatas (sesuai dengan ketersediaan
infrastruktur), frekuensi kontak secara langsung antarsesama siswa maupun
antara siswa dengan nara sumber sangat minim, demikian juga dengan
peluang siswa yang terbatas untuk bersosialisasi (Wildavsky, 2001).
Terhadap kritik ini, lingkungan pembelajaran elektronik dapat membantu
membangun/mengembangkan “rasa bermasyarakat” di kalangan peserta
didik sekalipun mereka terpisah jauh satu sama lain.
Guru atau instruktur dapat menugaskan peserta didik untuk bekerja
dalam beberapa kelompok untuk mengembangkan dan mempresentasikan
tugas yang diberikan. Peserta didik yang menggarap tugas kelompok ini
dapat bekerjasama melalui fasilitas homepage atau web. Selain itu, peserta
didik sendiri dapat saling berkontribusi secara individual atau melalui
diskusi kelompok dengan menggunakan e-mail (Website kudos, 2002).
Concord Consortium (2002) (http://www.govhs.org/) mengemukakan
bahwa pengalaman belajar melalui media elektronik semakin diperkaya
ketika peserta didik dapat merasakan bahwa mereka masing-masing adalah
bagian dari suatu masyarakat peserta didik, yang berada dalam suatu
lingkungan bersama. Dengan mengembangkan suatu komunitas dan hidup di
dalamnya, peserta didik menjadi tidak lagi merasakan terisolasi di dalam
media elektronik. Bahkan, mereka bekerja saling bahu-membahu untuk
mendukung satu sama lain demi keberhasilan kelompok.
Lebih jauh dikemukakan bahwa di dalam kegiatan e-Learning, para
guru dan peserta belajar mengungkapkan bahwa mereka justru lebih banyak
mengenal satu sama lainnya. Para peserta belajar sendiri mengakui bahwa
mereka lebih mengenal para gurunya yang membina mereka belajar melalui
kegiatan e-Learning. Di samping itu, para guru e-Learning ini juga aktif
melakukan pembicaraan (komunikasi) dengan orangtua peserta didik
melalui telepon dan email karena para orangtua ini merupakan mitra kerja
dalam kegiatan e-Learning. Demikian juga halnya dengan komunikasi antara
sesama para peserta e-Learning.
Di pihak manapun kita berada, satu hal yang perlu ditekankan dan
dipahami adalah bahwa e-Learning tidak dapat sepenuhnya menggantikan
kegiatan pembelajaran konvensional di kelas (Lewis, 2002). Tetapi, e-
Learning dapat menjadi partner atau saling melengkapi dengan
pembelajaran konvensional di kelas. e-Learning bahkan menjadi komplemen
besar terhadap model pembelajaran di kelas atau sebagai alat yang ampuh
untuk program pengayaan. Sekalipun diakui bahwa belajar mandiri
merupakan “basic thrust” kegiatan pembelajaran elektronik, namun jenis
kegiatan pembelajaran ini masih membutuhkan interaksi yang memadai
sebagai upaya untuk mempertahankan kualitasnya (Reddy, 2002).
5. Kesimpulan dan Saran
Pengertian e-Learning atau pembelajaran elektronik sebagai salah
satu alternatif kegiatan pembelajaran dilaksanakan melalui pemanfaatan
teknologi komputer dan internet. Seseorang yang tidak dapat mengikuti
pendidikan konvensional karena berbagai faktor penyebab, misalnya harus
bekerja (time constraint), kondisi geografis (geographical constraints), jarak
yang jauh (distance constraint), kondisi fisik yang tidak memungkinkan
(physical constraints), daya tampung sekolah konvensional yang tidak
memungkinkan (limited available seats), phobia terhadap sekolah, putus
sekolah, atau karena memang dididik melalui pendidikan keluarga di rumah
(home schoolers) dimungkinkan untuk dapat tetap belajar, yaitu melalui e-
Learning.
Penyelenggaraan e-Learning sangat ditentukan antara lain oleh: (a)
sikap positif peserta didik (motivasi yang tinggi untuk belajar mandiri), (b)
sikap positif tenaga kependidikan terhadap teknologi komputer dan
internet, (c) ketersediaan fasilitas komputer dan akses ke internet, (d)
adanya dukungan layanan belajar, dan (e) biaya akses ke internet yang
terjangkau untuk kepentingan pembelajaran/pendidikan.
Perkembangan di berbagai negara memperlihatkan bahwa jumlah
pengguna internet terus meningkat; demikian juga halnya dengan jumlah
peserta didik yang mengikuti e- Learning dan institusi penyelenggara e-
Learning. Fungsi e-Learning dapat sebagai pelengkap atau tambahan, dan
pada kondisi tertentu bahkan dapat menjadi alternatif lain dari
pembelajaran konvensional. Peserta didik yang mengikuti kegiatan
pembelajaran melalui program e-Learning memiliki pengakuan yang sama
dengan peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran secara
konvensional.
Peserta didik maupun dosen/guru/instruktur dapat memperoleh
manfaat dari penyelenggaraan e-Learning. Beberapa di antara manfaat e-
Learning adalah fleksibilitas kegiatan pembelajaran, baik dalam arti
interaksi peserta didik dengan materi/bahan pembelajaran, maupun
interaksi peserta didik dengan dosen/guru/ instruktur, serta interaksi
antara sesama peserta didik untuk mendiskusikan materi pembelajaran.
Lembaga pendidikan konvensional (universitas, sekolah, lembagalembaga
pelatihan, atau kursus-kursus yang bersifat kejuruan dan lanjutan)
secara ekstensif telah menyelenggarakan perluasan kesempatan belajar bagi
‘target audience’ mereka melalui pemanfaatan teknologi komputer dan
internet (Collier, 2002). Seiring dengan hal ini, peserta didik usia sekolah
yang mengikuti kegiatan pembelajaran elektronik juga terus meningkat
jumlahnya (Gibbon, 2002).
Daftar Pustaka
Alhabshi, Syed Othman. (2002). “e-Learning: A Malaysian Case Study”. A
Paper presented at the Africa-Asia Workshop on Promoting Cooperation in
Information and Communication Technologies Development, organized by
United Nations Development Program (UNDP) and the Government of
Malaysia at the National Institute of Public Administration (INTAN) on 26
March 2002, in Kuala Lumpur.
Anggoro, Mohammad Toha. 2001. “Tutorial Elektronik melalui Internet dan
Fax Internet” dalam Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, Volume 2,
No. 1, Maret 2001. Tangerang: Universitas Terbuka.
Bates, A. W. (1995). Technology, Open Learning and Distance Education.
London: Routledge.
Brown, Mary Daniels. 2000. Education World: Technology in the Classroom:
Virtual High Schools, Part 1, The Voices of Experience (sumber dari internet
16 September 2002: http://www.educationworld.
com/a_tech/tech052.shtml)
Collier, Geoff. 2002. E-Learning in Australia (sumber dari internet:
http://www.eduworks.com).
Concord Consortium. 2002. (sumber dari internet: http://www.govhs.org/)
Daniel, Sir John. 2000. Inventing the Online University. An Address on the
occasion of the opening of the Open University of Hong Kong Learning
Center on 4 December 2000, in Hong Kong.
Dowling, James, et.al. 2002. “The e-Learning Hype Cycle” in e-
LearningGuru.com (sumber dari internet: http://www.wlearningguru.
com/articles)
Downer, Alexander. 2001. The Virtual Colombo Plan-Bringing the Digital
Divide. (sumber dari internet: http://www.ausaid.gov.au/)
Feasey, Dave. 2001. E-Learning. Eyepoppingraphics, Inc. (sumber dari
Internet tanggal 20 Agustus 2002:
http://eyepopping.manilasites.com/profiles/)
Gibbon, Heather S. 2002. Process for Motivating Online Learners from
Recruitment through Degree Completion. Brenau University. (sumber dari
Internet 20 September 2002).
Hardhono, A.P. 2002. ‘Potensi Teknologi Komunikasi dan Informasi dalam
Mendukung Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh di Indonesia’ dalam
Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh Vol. 3, No. 1 Maret 2002.
Tangerang: Pusat Studi Indonesia, Lembaga Penelitian Universitas Terbuka.
Lewis, Diane E. 2002. “A Departure from Training by the Book, More
Companies Seeing Benefits of E-Learning”, The Boston Globe, Globe Staff,
5/26/02 (sumber Internet:
http://bostonworks.boston.com/globe/articles/052602/elearn.html)
Loftus, Margaret. 2001. But What’s It Like? Special Report on E-Learning
(sumber Internet: 20 Agustus 2002:
http://www.usnews.com/edu/elearning/articles/020624elearning.htm)
McCracken, Holly. 2002. “The Importance of Learning Communities in
Motivating and Retaining Online Learners”. University of Illinois at
Springfield.
Newsletter of Open and Distance Learning Quality Council, October 2001
(sumber dari internet: 16 September 2002
http://www.odlqc.org.uk/odlqc/n19-e.html)
Nugroho, Warto Adi. 2007. E-Learning VS I-Learning “Penyempitan Makna ELearning
dan penggunaan istilah “Internet-
Learning”.www.ilmukomputer.com.
Pethokoukis, James M. 2002. E-Learn and Earn. (sumber dari Internet: 20
Agustus 2002.
http://www.usnews.com/edu/elearning/articles/020624elearning.htm
Prabandari, dkk. 1998. Process Evaluation of An Internet-based Education
on Hospital and Health Service Management at Gajah Mada University,
Yogyakarta, A Paper presented in the 4th International Symposium on on
Open and Distance Learning.
Rankin, Walter P. 2002. “Maximal Interaction in the Virtual Classroom:
Establishing Connections with Adult Online Learners” (sumber dari internet:
16 September 2002).
Reddy, V. Venugopal and Manjulika, S. 2002. From Face-to-Face to Virtual
Tutoring: Exploring the potentials of E-learning Support. Indira Gandhi
National Open University (sumber Internet, September 2002).
Siahaan, Sudirman. 2002. “Studi Penjajagan tentang Kemungkinan
Pemanfaatan Internet untuk Pembelajaran di SLTA di Wilayah Jakarta dan
Sekitarnya” dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Tahun Ke-8, No. 039,
November 2002. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan-Departemen
Pendidikan Nasional.
Soekartawi. 2002a. “Prospek Pembelajaran Jarak Jauh Melalui Internet”.
Invited Papers. Disajikan pada Seminar Nasional Teknologi Pendidikan pada
tanggal 18-19 Juli 2002 di Jakarta.
Soekartawi. 2002b. “E-learning, Kampus Virtual Masa Depan” dalam Harian
Pelita, 29 Juli 2002.
Tucker, Bill. 2000. E-learning and Non-Profit Sector, White Paper Discussion
of the Potential of E-Learning to Improve Non-Profit management Training,
Washington, SmarterOrg, Inc., (sumber dari internet:
www.smarterorg.com).
Waller, Vaughan and Wilson, Jim. 2001. A Definition for E-Learning” in
Newsletter of Open and Distance Learning Quality Control. October 2001.
(sumber dari internet: 16 September 2002
http://www.odlqc.org.uk/odlqc/n19-e.html).
Website e-learners.com on:
http:/www.elearners.com/services/faq/glossary.htm
Website kudos on “What is e-learning?” (sumber Website:
http://www.kudos-idd.com/learning_solutions/definition).
Wildavsky, Ben. 2001. “Want More From High School?” Special Report: ELearning
10/15/01, Sumber: http://www.usnews/edu/elearning/articles).
Wulf, K. (1996). Training via the Internet: Where are We? Training and
Development 50 No. 5. (sumber dari Internet: 20 September 2002).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar